Pebuari, 22/2. Apa kabar sobat. semoga keberuntungan menyertai kita semuanya, melihat judul diatas masalah pergaulan.

Setelah kita memasuki era kehidupan dengan sistem
komunikasi global, dengan kemudahan mengakses informasi baik melalui media
cetak, TV, internet, komik, media ponsel, dan DVD bajakan yang berkeliaran di masyarakat, tentunya
memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan kita. Setiap fenomena yang ada dan
terjadi di dunia, tentunya akan memberikan nilai positif sekaligus negatif.
Sangat tergantung pada pola pikir dan landasan hidup pribadi masing-masing.
Setiap individu dari kita akan merasa senang dengan kehadiran produk atau
layanan yang lebih canggih dan praktis. Tidak terkecuali teknologi internet
yang telah merobohkan batas dunia dan media televisi yang menyajikan hiburan,
informasi serta berita aktual. Begitu juga, handphone yang telah membantu komunikasi
sesama manusia untuk kapan saja meskipun satu dengan yang lainnya berada di
dunia Utara-Selatan atau belahan Timur – Laut.
Teknologi
+ Kebebasan – Edukasi = Kehancuran
Setiap teknologi memberikan efek positif dan negatif .
Maraknya penggunaan ponsel telah menurunkan interaksi individu secara langsung.
Hal ini akan cenderung membuat pola hidup manusia menjadi indivualistis. Dampak
negatif ini tentunya dapat dikurangi bahkan dihindari jika saja si pengguna
memiliki pemahaman/pengetahuan, etika dan sikap yang
kuat (bijak-positif) untuk memanfaatkan sesuatu secara selektif dan tepat
guna.
Inilah titik permasalahannya bagi anak dan remaja. Penyaring
internal (pemahamam, etika dan sikap) anak dan remaja kita
masih sangat rapuh. Di era kompleksitas arus kehidupan saat ini,orang tua (terutama di
perkotaan) telah kehilangan daya mendidik dan membangun keluarga bagi
anak-anaknya. Hal ini diperparah dengan maraknya “racun-racun”
yang diterima oleh anak-anak kita saat ini. Adegan-adegan kekerasan,
seksual, mistik, dan hedonisme di media TV, koran dan internet, serta sistem
pendidikan sekolah yang gagal membangun karakter anak, telah menyerang
anak-anak kita.
Di sisi lain,
rendahnya regulasi
dan law inforcement dari
pemerintah dan aparaturnya, telah menyebabkan oknum-oknum perusak generasi muda
kita “berkembang biak: secara pesat. KKN antara pihak penguasa dengan pengusaha
dalam regulasi, publikasi dan distribusi media menyebabkan jutaan pemimpin masa
depan Indonesia di ujung kepunahan. Sederet keprihatinan anak dan remaja saat
ini seperti kenakalan remaja, pola hidup konsumtif-hedonistik, pergaulan bebas,
rokok, narkoba, dan kecanduan game on line hampir menuju budaya “gaya hidup”
remaja masa kini.
Teknologi tanpa
filtrasi (perlu regulasi agar kebebasan tidak jebol) dan rapuhnya
edukasi/karakter manusia mengakibatkan kehancuran bangsa.
Rokok,
Narkoba, Seks, dan AIDS
Ditengah berita siswa-siswi berprestasi dalam
ajang penelitian, olimpiade sains, seni dan olahraga, anak muda Indonesia saat
ini terancam dalam masa chaos. Jutaan
remaja kita menjadi korban perusahaan nikotin-rokok. Lebih dari 2 juta remaja Indonesia
ketagihan Narkoba (BNN 2004) dan lebih 8000
remaja terdiagnosis pengidap AIDS (Depkes
2008). Disamping itu, moral anak-anak dalam hubungan seksual telah memasuki
tahap yang mengawatirkan. Lebih dari 60% remaja SMP dan SMA Indonesia,
sudah tidak perawan lagi. Perilaku hidup
bebas telah meruntuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat kita.
Berdasarkan hasil survei Komnas Perlindungan Anak bekerja sama dengan
Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 provinsi pada 2007 diperoleh pengakuan
remaja bahwa :
- Sebanyak 93,7% anak SMP dan SMU pernah melakukan
ciuman, petting, dan oral seks.
- Sebanyak 62,7% anak SMP mengaku sudah tidak perawan.
- Sebanyak 21,2% remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi.
- Dari 2 juta wanita Indonesia yang pernah melakukan aborsi, 1 juta adalah
remaja perempuan.
- Sebanyak 97% pelajar SMP dan SMA mengaku suka menonton film porno.
Pengakuan
Siswi SMA, Beginikah Remaja Kita?
“Sekarang
gue lagi jomblo. Sudah dua tahun putus. Sakit juga! Habis pacaran empat tahun,
dan sudah kayak suami-istri. Dulu, tiap kali ketemu, gejolak seks muncul begitu
saja. Terus ML (making love) deh. Biasanya kita lakuin kegiatan itu di hotel.
Kadang di rumah juga, kalau orang rumah lagi pergi semua. Kalau rumah nggak
lagi sepi ya paling cuma berani ciuman dan raba sana-sini. Buat gue, semua itu
biasa. Gue nglakuinnya karena merasa yakin doi bakal jadi suami gue. Gue nggak
takut dosa. Kan kita sama-sama mau, jadi nggak ada paksaan. Dosa terjadi kan
kalau ada paksaaan. Gitu menurut gue! Waktu putus, gue nggak nyesel sudah
nglakuin itu, habis, mau gimana lagi! Santai saja! Tentang pendidikan seks, gue
nggak pernah terima dari orangtua. Paling dari teman, majalah, buku, atau film”
Itulah penuturan Neila (samaran), pelajar kelas 3 sebuah SMA
di Jakarta Timur, yang baru saja menjalani UAN. Tanpa beban,
remaja manis bertubuh mungil ini menceritakan pengalamannya. Ia dan sang
kekasih tahu harus melakukan apa supaya hubungan seks pranikah itu tidak
membuatnya hamil.
Sampai saat ini, Neila yakin orangtuanya sama sekali tidak tahu perilaku putri
keduanya itu. ”Gue
nggak bakal ceritalah, bisa mati mendadak mereka. Teman malah ada yang tahu,
tentu saja yang punya pengalaman sama,” katanya sambil memilin-milin rambutnya.
Menurutnya, ML di kalangan remaja sekarang bukan hal
yang terlalu asing lagi. Malah, ada yang sengaja merayu pria dewasa yang bisa
ditemui di mal dan tempat umum lain, untuk mendapatkan uang atau barang
berharga, seperti telepon seluler model terbaru, jam tangan bermerek, baju,
sepatu, tas, dan sebagainya. ”Bukan profesi sih, cuma iseng. Hitung-hitung bisa buat
gaya. Mending gue `kan, yang nglakuinnya cuma sama pacar dan bukan demi duit,” sergahnya.
Biarkan
atau Bertindak?
Sudah seharusnya kita kembali ke akar budaya bangsa
kita. Jauh sebelumnya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki nilai akar
(root value) budaya yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kesusilaan
seperti tertuang dalam falsafah dan nilai Pancasila. Kondisi yang menimpa
generasi muda saat ini, harus dibina dan dididik agar mereka menjadi pemimpin
yang memiliki moralitas yang tinggi untuk membangun bangsa dan negaranya.
Semua pihak haruslah merasa bertanggung jawab atas kasus ini. Disamping orang
tua, peran masyarakat sangatlah penting. Sistem pendidikan kita juga harus
diubah. Jangan naikkan anggaran tanpa meningkatkan nilai yang sesungguhnya dari
pendidikan. Pemerintah sudah seharusnya tegas melaksanakan undang-undang, dan
para pengusaha, pedagang, dan web internet cobalah berhenti menyebarkan hal-hal
yang merusak (karena generasi kita masih rapuh).
Hal-hal yang harusnya
dilakukan:
- Pemerintah filtrasi tegas sinetron, film atau
iklan yang berisi kekerasan seksual, pergaulan bebas, mistis-religi,
kekerasan-religi, ramalan serta judi.
- Menindak tegas para pelanggar UU Perlindungan Anak
- menfilter situs-situs porno di Indonesia. Hingga saat ini saja ada 6 Situs Porno yang Paling Banyak diakses di Indonesia
- Membangun Youth Centre, pusat pendidikan dan kreasi bagi remaja-remaja agar
beraktivitas yang positif.
- Secara aktif mengontrol promosi (iklan) dan peredaran rokok.
- Memprioritaskan program pencegahan perdagangan anak, eksploitasi seksual
komersial anak, dan narkoba.
- Edukasi pada masyarakat bahwa jangan mengasingkan anak-anak (yang menjadi
korban), bantulah mereka untuk keluar dari permasalahan mereka (material maupun
moril).
- banyak berdo,a dan selalu mendekat pada sang pencipta
- jauhi pergaulan yang negatif
- bergaulah dengan orang-orang yang baik dilingkungannya
Referensi: (Komnas PA, Media Indonesia, Suara Merdeka,
dan Kompas) nusantaraku