Rabu, 27 Februari 2013

"Untuk Apa Aku Lahir"


"Untuk apa aku lahir" ini adalah kalimat yang simple, namun apakah pernah terucap dalam hati kita?.
perlulah sesekali kita kembali mengingat-ingat kenapa kita itu dilahirkan dan untuk apakah kita lahir, ini menjadi penting dan sangat penting, karena coba bayangkanlah apa bila kita sudah berada didepan rumah dengan kendaraan kita yang sudah siap di kendalikan namun apalah jadinya apabila kita saat itu tidak memiliki tujuan, jawabnya jelas saat kita mulai naik kendaraan dan menjalankannya kita akan kebingungan dan bila diteruskan melakukan perjalanan, tentunya selain kita membuang waktu, energi dan biaya maka perjalananpun akan sia-sia. namun itu belum seberapa karena hari esok akan datang kembali dan pekerjaan-pekerjaan kita akan datang kembali dengan sendirinya sesuai rencana kita yang telah matang.
tapi coba kita bayangkan apabila kita tidak tahu untuk apa kita lahir dan dilahirkan. pertanyaan ini sungguh menyimpan makna yang dalam dan hanya dapat dijawab dengan ilham baik dari sang pencipta yang diberikannya baik melalui perantara oranglain ataupun langsung sang kholiq yang memberikannya.
Alloh pernah berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ الجِنَّ وَ الإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

yang artinya adalah : "tidak ku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada ku (Alloh)"
 mungkin kita telah banyak mendengar dan bahkan sadar bahwa hidup kita ini Alloh berikan dengan maksud dan tujuan agar kita menyembah kepadanya. tapi yang jadi pertanyaan sudahkah kita tertib melakukannya?
klo sudah apakah ibadah kita ini sudah sesuai dengan perintahnya, atau sekedar ibadah? jawabannya tidak hanya kita sadar bahwa arti hidup kita adalah untuk beribadah namun perlu pemahaman ilmu tentang hakiki beribadah dan itu dapat di peroleh dengan menggaji alias menjadi insan yang berilmu. faham agama (religius). bila anda sibuk, malu, tidak ada waktu apalagi malas untuk mengaji maka kita telah menggadaikan hidup kita ini dengan kekeliruan dan akan menyesal dihari nanti setelah kita meninggalkan dunia ini. so came on we lern to understand al-quran and al-hadits for our future.
 

Kamis, 21 Februari 2013

Kegiatan Generasi Tangguh " GENTA"

Bertempat di Masjid Baitul Mansurin Kp.Kancah RT/RW 01/13 Kec. Parongpong. Kab Bandung Barat, tepatnya tanggal 19 Februari 2012 pkl 18.30 s/d pkl 21.00 WIB telah dilaksanakan kegiatan pembinaan pemuda dan pemudi usia SMP dalam peningkatan nilai religius.
Memang sangat kita sadari bahwa pada era globalisasi saat ini pendidikan formal merupakan hal yang sangat penting dan menjadi prioritas utama para orang tua terhadap putra-putrinya. Namun sadar maupun tidak kita harus ingat bahwa harapan orang tua yang mendambakan anak yang sukses dan berhasil di kehidupan-kehidupan mendatang itu tidak akan  terwujud apabila kita tidak menanami mereka dengan nilai-nilai keagamaan yang kuat di masa-masa awal kehidupan mereka. hal ini terbukti dengan fakta-fakta bahwa aparat pemerintah, pejabat pemerintah, dan para profesionalis di bidangnya masing yang ternyata tidak dapat memberikan suatu keteladanan yang baik dan malah melanggar norma-morna dan nilai yang seharusnya mereka junjung setinggi-tingginya. Maka tidak heran kegiatan yang di beri nama "GENTA" generasi tanggung sangatlah di apresiasi oleh para orang tua dengan harapan bahwa selain mereka dapat menjadi manusia yang profesional kedepannya merekapun menjadi insan yang bertaqwa kepada tuhan dan memiliki akhlaq mulia terhadap sesama. mudah-mudahan dengan adanya kegiatan yang rencananya akan dilaksanaakan rutin tersebut dapat menambah jumlah pemuda-pemudi indonesia khususnya pemuda-pemudi d Kab.Bandung Barat yang berprestasi, profesional dan religius demi tercapainya indonesia yang lebih baik lagi. amin!

pergaulan remaja

Pebuari, 22/2. Apa kabar sobat. semoga keberuntungan menyertai kita semuanya, melihat judul diatas masalah pergaulan.


Setelah kita memasuki era kehidupan dengan sistem komunikasi global, dengan kemudahan mengakses informasi baik melalui media cetak, TV, internet, komik,  media ponsel, dan DVD bajakan yang berkeliaran di masyarakat, tentunya memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan kita. Setiap fenomena yang ada dan terjadi di dunia, tentunya akan memberikan nilai positif sekaligus negatif. Sangat tergantung pada pola pikir dan landasan hidup pribadi masing-masing.
Setiap individu dari kita akan merasa senang dengan kehadiran produk atau layanan yang lebih canggih dan praktis. Tidak terkecuali teknologi internet yang telah merobohkan batas dunia dan media televisi yang menyajikan hiburan, informasi serta berita aktual. Begitu juga, handphone yang telah membantu komunikasi sesama manusia untuk kapan saja meskipun satu dengan yang lainnya berada di dunia Utara-Selatan atau belahan Timur – Laut.
Teknologi + Kebebasan – Edukasi = Kehancuran
Setiap teknologi memberikan efek positif dan negatif . Maraknya penggunaan ponsel telah menurunkan interaksi individu secara langsung. Hal ini akan cenderung membuat pola hidup manusia menjadi indivualistis. Dampak negatif ini tentunya dapat dikurangi bahkan dihindari jika saja si pengguna memiliki pemahaman/pengetahuan, etika dan sikap yang kuat (bijak-positif) untuk memanfaatkan sesuatu secara selektif dan tepat guna.
Inilah titik permasalahannya bagi anak dan remaja.
 Penyaring internal (pemahamam, etika dan sikap) anak dan remaja kita masih sangat rapuh. Di era kompleksitas arus kehidupan saat ini,orang tua (terutama di perkotaan) telah kehilangan daya mendidik dan membangun keluarga bagi anak-anaknya. Hal ini diperparah dengan maraknya “racun-racun” yang diterima oleh anak-anak kita saat ini. Adegan-adegan kekerasan, seksual, mistik, dan hedonisme di media TV, koran dan internet, serta sistem pendidikan sekolah yang gagal membangun karakter anak, telah menyerang anak-anak kita.
 Di sisi lain, rendahnya regulasi dan law inforcement dari pemerintah dan aparaturnya, telah menyebabkan oknum-oknum perusak generasi muda kita “berkembang biak: secara pesat. KKN antara pihak penguasa dengan pengusaha dalam regulasi, publikasi dan distribusi media menyebabkan jutaan pemimpin masa depan Indonesia di ujung kepunahan. Sederet keprihatinan anak dan remaja saat ini seperti kenakalan remaja, pola hidup konsumtif-hedonistik, pergaulan bebas, rokok, narkoba, dan kecanduan game on line hampir menuju budaya “gaya hidup” remaja masa kini.
Teknologi tanpa filtrasi (perlu regulasi agar kebebasan tidak jebol) dan rapuhnya edukasi/karakter manusia mengakibatkan kehancuran bangsa.
 Rokok, Narkoba, Seks, dan AIDS
Ditengah berita siswa-siswi berprestasi dalam ajang penelitian, olimpiade sains, seni dan olahraga, anak muda Indonesia saat ini terancam dalam masa chaos. Jutaan remaja kita menjadi korban perusahaan nikotin-rokok. Lebih dari 2 juta remaja Indonesia ketagihan Narkoba (BNN 2004) dan lebih 8000 remaja terdiagnosis pengidap AIDS (Depkes 2008). Disamping itu, moral anak-anak dalam hubungan seksual telah memasuki tahap yang mengawatirkan. Lebih dari 60% remaja SMP dan SMA Indonesia, sudah tidak perawan lagi. Perilaku hidup bebas telah meruntuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat kita.
Berdasarkan hasil survei
 Komnas Perlindungan Anak bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 provinsi pada 2007 diperoleh pengakuan remaja bahwa :
-
 Sebanyak 93,7% anak SMP dan SMU pernah melakukan ciuman, petting, dan oral seks.
- Sebanyak 62,7% anak SMP mengaku sudah tidak perawan.
- Sebanyak 21,2% remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi.
- Dari 2 juta wanita Indonesia yang pernah melakukan aborsi, 1 juta adalah remaja perempuan.
- Sebanyak 97% pelajar SMP dan SMA mengaku suka menonton film porno
.
Pengakuan Siswi SMA, Beginikah Remaja Kita?
Sekarang gue lagi jomblo. Sudah dua tahun putus. Sakit juga! Habis pacaran empat tahun, dan sudah kayak suami-istri. Dulu, tiap kali ketemu, gejolak seks muncul begitu saja. Terus ML (making love) deh. Biasanya kita lakuin kegiatan itu di hotel. Kadang di rumah juga, kalau orang rumah lagi pergi semua. Kalau rumah nggak lagi sepi ya paling cuma berani ciuman dan raba sana-sini. Buat gue, semua itu biasa. Gue nglakuinnya karena merasa yakin doi bakal jadi suami gue. Gue nggak takut dosa. Kan kita sama-sama mau, jadi nggak ada paksaan. Dosa terjadi kan kalau ada paksaaan. Gitu menurut gue!  Waktu putus, gue nggak nyesel sudah nglakuin itu, habis, mau gimana lagi! Santai saja! Tentang pendidikan seks, gue nggak pernah terima dari orangtua. Paling dari teman, majalah, buku, atau film”
Itulah penuturan
 Neila (samaran), pelajar kelas 3 sebuah SMA di Jakarta Timur, yang baru saja menjalani UAN. Tanpa beban, remaja manis bertubuh mungil ini menceritakan pengalamannya. Ia dan sang kekasih tahu harus melakukan apa supaya hubungan seks pranikah itu tidak membuatnya hamil.
Sampai saat ini, Neila yakin orangtuanya sama sekali tidak tahu perilaku putri keduanya itu. ”
Gue nggak bakal ceritalah, bisa mati mendadak mereka. Teman malah ada yang tahu, tentu saja yang punya pengalaman sama,” katanya sambil memilin-milin rambutnya.
Menurutnya, ML di kalangan remaja sekarang bukan hal yang terlalu asing lagi. Malah, ada yang sengaja merayu pria dewasa yang bisa ditemui di mal dan tempat umum lain, untuk mendapatkan uang atau barang berharga, seperti telepon seluler model terbaru, jam tangan bermerek, baju, sepatu, tas, dan sebagainya.  ”Bukan profesi sih, cuma iseng. Hitung-hitung bisa buat gaya. Mending gue `kan, yang nglakuinnya cuma sama pacar dan bukan demi duit,” sergahnya.
 Biarkan atau Bertindak?
Sudah seharusnya kita kembali ke akar budaya bangsa kita. Jauh sebelumnya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki nilai akar (root value) budaya yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kesusilaan seperti tertuang dalam falsafah dan nilai Pancasila. Kondisi yang menimpa generasi muda saat ini, harus dibina dan dididik agar mereka menjadi pemimpin yang memiliki moralitas yang tinggi untuk membangun bangsa dan negaranya.
Semua pihak haruslah merasa bertanggung jawab atas kasus ini. Disamping orang tua, peran masyarakat sangatlah penting. Sistem pendidikan kita juga harus diubah. Jangan naikkan anggaran tanpa meningkatkan nilai yang sesungguhnya dari pendidikan. Pemerintah sudah seharusnya tegas melaksanakan undang-undang, dan para pengusaha, pedagang, dan web internet cobalah berhenti menyebarkan hal-hal yang merusak (karena generasi kita masih rapuh).

Hal-hal yang harusnya dilakukan:
- Pemerintah filtrasi tegas sinetron, film atau iklan  yang berisi kekerasan seksual, pergaulan bebas, mistis-religi, kekerasan-religi, ramalan serta judi.
- Menindak tegas para pelanggar UU Perlindungan Anak
- menfilter situs-situs porno di Indonesia. Hingga saat ini saja ada
 6 Situs Porno yang Paling Banyak diakses di Indonesia
- Membangun Youth Centre, pusat pendidikan dan kreasi bagi remaja-remaja agar beraktivitas yang positif.
- Secara aktif mengontrol promosi (iklan) dan peredaran rokok.
- Memprioritaskan program pencegahan perdagangan anak, eksploitasi seksual komersial anak, dan narkoba.
- Edukasi pada masyarakat bahwa jangan mengasingkan anak-anak (yang menjadi korban), bantulah mereka untuk keluar dari permasalahan mereka (material maupun moril).
-  banyak berdo,a dan selalu mendekat pada sang pencipta
-  jauhi pergaulan yang negatif
-  bergaulah dengan orang-orang yang baik dilingkungannya
Referensi: (Komnas PA, Media Indonesia, Suara Merdeka, dan Kompas) nusantaraku